Biodiversitas : Parameter Lingkungan yang Kritis di Indonesia

Dalam mengukur kualitas lingkungan, umumnya dilakukan berbagai metode. Di Indonesia, dalam pengukuran kualitas lingkungan, umumnya diambil sampel dari lokasi yang lalu diberlakukan uji pada skala laboratorium. Tak sedikit juga sampel tersebut diuji secara in situ dengan menggunakan alat-alat tertentu yang dibawa langsung ke lapangan. Metode ini, meskipun banyak dilakukan di Indonesia, terhitung tidak efisien dan ekonomis. Selain itu, para pelaku metode pun tidak dapat dilakukan sembarangan orang, yakni orang-orang terlatih.

Di sebuah negara di mana teknologi masih berkembang dan sebagian besar rakyatnya berekonomi menengah ke bawah, seharusnya dikembangkan metode pengukuran kualitas lingkungan alternatif. Tentunya, metode tersebut baiknya bersifat efisien dan ekonomis, serta mudah dipelajari dan diimplementasikan siapa saja.

Di negara-negara Eropa, biodiversitas menjadi parameter yang sering dijadikan bahan analisis dalam observasi lingkungan. Menurut Encyclopedia of Biology terbitan Oxford University Press, biodiversitas adalah tingkat keanekaragaman sumber daya alam hayati. Sumber daya alam tersebut meliputi tumbuhan, hewan, mikroba dan makhluk hidup lainnya. Terdapat banyak faktor yang dapat mempengaruhi biodiversitas suatu tempat, salah satunya kondisi klimatik. Menurut World Resources Institute, Indonesia memiliki tingkat biodiversitas yang tinggi karena kondisi klimatik daerah ekuatorial mendukung pertumbuhan dan perkembangan sebagian besar makhluk hidup.

Ahli ekologi Peter Reich dari University of Minnesota mengemukakan bahwa kekayaan jenis suatu lokasi berbanding lurus dengan kekayaan sumber daya alam lokasi tersebut. Jika kekayaan jenis suatu lokasi tinggi, maka kekayaan sumber daya alamnya pun tinggi. “Ketika banyak jenis (organisme) tumbuh bersama, sifat-sifatnya yang bervariasi dipengaruhi beranekaragam sumber daya alam yang ada,” kata Reich pada jurnal Science. Dari hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa makhluk hidup yang ditemukan pada suatu daerah mewakili kondisi alamnya. Fungsi inilah yang dimanfaatkan untuk analisis lingkungan.

Kondisi biodiversitas ekosistem sungai di seluruh dunia. Penggunaan biodiversitas sebagai parameter analisis, dapat mewakili kondisi alam seperti jenis organisme dan sumber daya alam yang tersedia – riverthreat

Penggunaan biodiversitas sebagai parameter lingkungan dilakukan dengan penentuan jumlah dan distribusi spesies yang ditemukan. Menurut Hu Renliang dari East China Normal University, jumlah total spesies pada suatu daerah mewakili heterogenitas ruang daerah tersebut. Sementara itu, distribusi spesies mewakili tingkat toleransi spesies yang ditemukan, atau dengan kata lain, tingkat kebersahabatan alam terhadap spesies tersebut. Jumlah dan distribusi spesies diukur secara kuantitatif menggunakan indeks-indeks tertentu. Beberapa indeks yang sering digunakan antara lain indeks keragaman Shannon-Wiener, indeks dominansi Simpson, indeks pemerataan Pielou dan indeks kesamaan Sorensen.

Pada tahun 1979 Michael B. Stefan dan Emanuel D. Rudolph dari Ohio State University melakukan penelitian terhadap biodiversitas lumut di wilayah pabrik batu bara. Menurut data, jumlah spesies yang ditemukan pada wilayah radius 7-15 meter dari pabrik lebih sedikit dibandingkan dari jumlah spesies yang ditemukan pada wilayah radius di atas 20 meter dari pabrik. Hal ini dikarenakan heterogenitas wilayah jauh dari pabrik lebih tinggi dibandingkan wilayah dekat pabrik sehingga wilayah jauh dari pabrik mampu menghidupi lebih banyak spesies. Dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwa kualitas lingkungan pada wilayah dekat pabrik lebih buruk dibandingkan wilayah jauh dari pabrik. Heterogenitas ruang wilayah dekat pabrik tergolong rendah diduga karena aktivitas pabrik batu bara.

Selain itu, ada juga penelitian yang dilakukan Nalini Nadkarni dari The Evergreen State College. Pada penelitian terhadap biodiversitas lumut di wilayah hutan hujan tropis Costa Rica, terjadi penurunan jumlah spesies lumut dari tahun ke tahun. Menurut data, terjadi juga peningkatan nilai suhu udara. Diduga bahwa penurunan jumlah spesies lumut terjadi akibat suhu udara lokasi yang semakin sulit ditoleransi beberapa spesies. Hal yang sama juga ditemui di penelitian World Wide Fund for Nature (WWF) dan Zoological Society of London (ZSL), yang menemukan adanya penurunan kelimpahan spesies sebesar 44 persen pada rentang tahun 1970-2008 di beberapa negara.

Dari penelitian-penelitian tersebut, dapat dilihat bahwa biodiversitas sudah menjadi parameter umum dalam environmental assessment. Di Indonesia, di mana tingkat biodiversitasnya nyaris tertinggi di dunia, seharusnya kekayaan tersebut dapat dimanfaatkan untuk observasi lingkungan. Selain itu, metode tersebut juga dinilai lebih efisien dan ekonomis, karena hanya mengandalkan obyek-obyek yang sudah ada di lapangan. Pada penelitian yang dilakukan pada daerah dengan peradaban, metode ini juga dapat dilakukan dengan bantuan penduduk setempat yang sudah mengenal medan.

Sayangnya, di Indonesia masih sedikit sekali penelitian yang memanfaatkan biodiversitas sebagai parameter observasi lingkungan. Banyak sekali peneliti asing yang meneliti biodiversitas Indonesia, namun tidak banyak peneliti lokal yang mengikuti jejak tersebut. Diharapkan bahwa ke depannya, penelitian terkait biodiversitas nusantara diperkaya oleh peneliti-peneliti dalam negeri.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s