Presiden Deklarasikan Tahun Badak Internasional

JAKARTA — Pada hari Selasa lalu (5/06), Presiden Soesilo Bambang Yudoyono mendeklarasikan tahun 2012 sebagai Tahun Badak Internasional atau International Rhino Year. Deklarasi berlangsung di Istana Negara Republik Indonesia, yang diadakan bersamaan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

“Jadikan Tahun Badak Internasional sebagai momentum dan akses bagi peningkatan kerja sama internasional dalam pelestarian badak di negeri kita. Ajak masyarakat dan instansi terkait untuk menyukseskan Tahun Badak Internasional,” kata Presiden ketika memberikan sambutan pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Istana.

Peringatan Tahun Badak Internasional bertujuan untuk meningkatkan upaya pelestarian populasi badak di dunia, yang diketahui hanya ditemukan di 11 negara. Pencanangan ini didukung penuh oleh 11 negara tersebut, yakni Malaysia, Mozambik, Namibia, Afrika Selatan, Bhutan, Nepal, India, Indonesia dan Zimbabwe.

Badan konservasi dunia International Union for Conservation of Nature (IUCN) menunjuk Indonesia sebagai tuan rumah Hari Badak Internasional. Simon N. Stuart, chairman dari IUCN Species Survival Commission, menjelaskan bahwa Indonesia terpilih sebagai tuan rumah karena menjadi habitat untuk dua spesies badak yang terancam punah, yakni Badak Sumatra dan Badak Jawa.

“Ternyata isu tentang konservasi badak itu belum terlalu diketahui masyarakat banyak. (Tahun Badak Internasional) yang dideklarasikan oleh Presiden RI, kita mendukung upaya pemerintah mendeklarasikan Hari Badak Internasional.” ungkap Annisa Ruzuar dari WWF Indonesia ke Voice of America.

Kepercayaan bahwa cula badak berkhasiat tinggi menjadi penyebab utama kegiatan perburuan badak ilegal – Rhinoconservation

Menginisiasi Green Economy di Indonesia

Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono juga menjelaskan bahwa pelestarian badak merupakan bagian dari pembangunan ekonomi yang berwawasan lingkungan. Harapannya, pengelolaan lingkungan hidup yang baik akan menjamin keberlangsungan layanan ekosistem serta kehidupan flora dan fauna di dalamnya.

“Pendekatan pembangunan ekonomi tersebut merupakan lompatan besar bagi kita untuk meninggalkan praktik pembangunan ekonomi di masa lalu, yang mementingkan keuntungan jangka pendek, tetapi mewariskan berbagai permasalahan lingkungan. Strategi ini menekankan aspek pertumbuhan kesejahteraan dan pelestarian lingkungan,” ungkap Presiden.

Presiden menambahkan bahwa konsep ekonomi tersebut–akrab disebut green economy atau ekonomi hijau–didukung oleh Rencana Aksi Nasional untuk Menurunkan Gas Rumah Kaca, Inpres Efisiensi Energi, Inpres Moratorium Hutan, dan Keppres Satgas Pemberantasan Mafia Hukum. Menurut penuturan Presiden, rencana ini berupa Instruksi Presiden.

“Ekonomi hijau juga dimaknai sebagai kemampuan untuk melibatkan rakyat banyak secara produktif dalam perekonomian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Kemampuan untuk menemukan dan membuat alat-alat produksi sendiri dan mengadakan penyesuaian terhadap barang-barang yang diproduksi di tempat lain dengan kebutuhan setempat. Di samping juga kemampuan untuk menerapkan sendiri kemajuan teknik pada situasi setempat,” Presiden menambahkan.

Badak di Indonesia

Penelitian terbaru menemukan bahwa hanya tertinggal lima spesies Badak di seluruh dunia, yakni Badak Sumatra dan Jawa di Indonesia; Badak India di Nepal, India dan Bhutan; Badak Putih dan Badak Hitam di beberapa negara dalam benua Afrika.

Di Indonesia, terdapat dua spesies badak yaitu Rhinoceros sondaicus (Badak Jawa) dan Dicerorhinus sumatrensis (Badak Sumatra). Kedua spesies badak ini dibedakan dari jumlah culanya. Badak Jawa bercula satu, sedangkan Badak Sumatra bercula dua.

Badak Sumatra dilestarikan di Taman Nasional Way Kambas, Lampung dan Taman Nasional Gunung Leuseur, Aceh, sedangkan Badak Jawa dilestarikan di Taman Nasional Ujung Kulon, Jawa Barat. Jumlah total individu Badak Sumatra di kedua taman nasional masih mencapai angka 200, berbeda dengan Badak Jawa yang jumlahnya berkisar antara 35-40 individu saja. Diperkirakan bahwa populasi badak terus menurun setiap tahunnya. Aktivitas manusia diketahui menjadi penyebab utama terancamnya populasi Badak Sumatra dan Badak Jawa.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s