Hutan Adat : Milik Pemerintah atau Milik Masyarakat?

Rakyat Dayak Punan kini merasa harap-harap cemas. Hutan adat mereka, yang termasuk kawasan PT. Intracawood di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur, kembali digarap dan diambil kayunya.

“Masyarakat adat tak mau. Kembalikan hutan adat kami. Kembalikan tanah adat kami. Semua. Yang sudah digarap maupun yang belum,” ungkap seorang anggota Komunitas Adat Dayak Punan kepada Mongabay.

Rakyat sudah seringkali berusaha berkomunikasi dengan perusahaan. Sayangnya, upaya tersebut selalu dibalas dengan ketidakpedulian. Bahkan, pihak perusahaan selalu menyalahkan pemerintah desa karena tidak mampu memfasilitasi masyarakat.

Bahkan, salah seorang warga menambahkan bahwa masyarakat setempat semakin sulit mendapatkan akses terhadap hutan adat mereka. “Mereka dianggap bersalah mengambil kayu di tempat yang biasa sejak dulu.”

PT. Intracawood Manufacturing adalah anak perusahaan dari Central Cipta Murdaya Grup (CCM) yang bergelut pada bidang agribisnis. Sebagai perusahaan agroforestry, perusahaan mengelola kawasan hak pengusahaan hutan (HPH) dengan luas 226,3 ha. Izin tersebut diberikan oleh Menteri Kehutanan pada tahun 2003, di mana wilayah hutannya meliputi tiga kabupaten; Bulungan, Berau dan Malinau.

Dengan hak tersebut, PT. Intracawood memiliki izin penuh untuk menebang dan memanfaatkan kayu dari hutan tersebut. Sebagai kompensasi, PT. Intracawood juga melakukan aktivitas konservasi pada wilayah hutan yang telah diizinkan.

Margaretha Seting Beraan, Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalimantan Timur, mengatakan bahwa kawasan yang ditetapkan PT. Intracawood untuk konservasi adalah kawasan permukiman warga Dayak Punan dan Belusu. Penetapan kawasan tersebut dilakukan tanpa persetujuan maupun komunikasi dengan warga.

Masyarakat setempat menjadi dilarang berburu, berladang atau sekedar menjamah kawasan mereka. Sejak tahun 1988, kerap terjadi persengketaan antara masyarakat dengan perusahaan. Meskipun beberapa perjanjian telah disepakati, banyak pula dari perjanjian tersebut yang diingkari.

Peta penunjukan kawasan hutan dan perairan propinsi Kalimantan Timur tahun 2001 – Kementrian Kehutanan RI

Pada Maret lalu, warga Punan dan Belusu telah melaporkan kasus ke DPRD. Sayangnya, pelaporan ini hanya tinggal angin lalu.

Kasus ini bukanlah kasus sengketa lahan pertama. Yang juga terjadi baru-baru ini adalah kasus PT. Perkebunan Nusantara VII di Sumatera Utara yang pengajuan hak guna usaha (HGU) pada lahan seluas 13.500 ha ditolak setelah protes warga. Belum lagi kasus Mesuji dan kasus-kasus serupa lainnya.

Menurut Eighth Biennial Southern Silvicultural Research Conference pada tahun 2009, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kadar old growth forest–atau hutan primer–terbesar di dunia. Sebelum perubahan tata guna lahan marak, hutan-hutan di Indonesia telah lama berdiri tanpa gangguan.

Karena itu, hutan-hutan tersebut telah menjadi bagian dari hidup masyarakat Indonesia sejak lama. Menurut REDD Indonesia, sudah banyak suku di Indonesia yang memanfaatkan hutan untuk berbagai kegiatan.

Di Kabupaten Timor Tengah Selatan, terdapat hutan adat yang tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari penduduk, tapi juga untuk ritual ibadah. Bahkan, suku setempat telah menganut kepercayaan bahwa hutan tersebut perlu dijaga kelestariannya.

Sama seperti Suku Dayak Pinan, suku ini pun ‘bentrok’ dengan perusahaan swasta. Dalam hal ini, perusahaan tersebut melakukan aktivitas pertambangan pada wilayah hutan adat mereka.

Pemerintah, meskipun bertanggungjawab terhadap segala aspek dalam negeri ini, seringkali lupa bahwa Indonesia adalah milik Bangsa Indonesia. Meskipun wilayah pemerintah mencakup hutan adat, apakah pemerintah memahami esensi dari adanya hutan itu bagi masyarakat? Apakah pemerintah mau mendepankan ekonomi dibandingkan kesejahteraan rakyat?

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s