Car Free Day Bandung : Masihkah Berkontribusi Untuk Lingkungan?

Hari Bebas Kendaraan Bermotor, atau yang biasa dikenal dengan istilah Car Free Day (CFD), kini menjadi salah satu agenda rutin di berbagai kota/kabupaten di Indonesia. Kegiatan CFD pertama kali diselanggarakan di Surabaya pada tahun 2000 sebagai bagian dari kampanye peningkatan kualitas udara kota. Di Jakarta, kegiatan CFD diselenggarakan mulai tahun 2002 hingga akhirnya dikukuhkan sebagai kewajiban Pemprov DKI Jakarta melalui Perda No. 2 Tahun 2005 tentang pengendalian Pencemaran Udara. Mengimplementasikan hal tersebut, pemprov DKI Jakarta mencanangkan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) sebagai kelanjutan CFD melalui Instruksi Gubernur No. 93 Tahun 2007.

Kegiatan CFD dilandasi oleh dua misi utama, yaitu sebagai kampanye penyadaran masyarakat agar efisien dalam menggunakan sarana transportasi dan untuk mengurangi kadar emisi gas polutan udara di perkotaan. Penyelenggaraan CFD, khususnya di DKI Jakarta, secara tidak langsung menyediakan ruang baru bagi warga untuk menikmati kota Jakarta sebagai pedestrian, hal yang sulit ditemukan pada hari-hari biasa. Jalan yang biasanya dipenuhi asap kendaraan bermotor kini menjadi sebuah sarana yang nyaman dan sehat untuk melakukan berbagai aktivitas yang sebelumnya sulit untuk dilakukan di jalanan Kota Jakarta, seperti bersepeda, lari pagi, senam dan bentuk olahraga lainnya.

Di Indonesia, kegiatan CFD memiliki fungsi ganda sebagai ruang publik yang keberadaannya mulai langka. Pertumbuhan kota yang diimbangi dengan pembangunan gedung dan bangunan perlahan mengikis keberadaan ruang tebuka hijau sebagai salah satu ruang publik yang dapat digunakan warga. Ruang baru yang disediakan oleh CFD, memberikan kesempatan warga untuk mewujudkan ide-ide kreatifnya. Banyak komunitas kreatif baru yang lahir dan berkembang melalui sarana CFD. Secara perlahan aktivitas-aktivitas di dalam agenda CFD mengubah budaya dan peran warga kota dalam berperilaku.

Seorang juru parkir sedang membantu pengunjung Car Free Day memarkirkan motornya – Lucky dc

Melihat dampak positif yang dihasilkan, Pemkot Bandung berinisiatif menyelenggarakan kegiatan yang serupa di Kota Bandung, yakni di jalan Dago dan jalan Buahbatu. Namun sayangnya semangat besar yang dibawa CFD tidak disikapi oleh kesadaran warga Kota Bandung, khususnya pengunjung area CFD di jalan Dago. Banyak warga yang datang ke jalan Dago menggunakan kendaraan pribadi dan kemudian diparkir di jalan atau area sekitar jalan Dago. Hal ini tidak senada dengan apa yang disuarakan CFD, yakni untuk mengistirahatkan kendaraan pribadi dan beralih menggunakan sarana transportasi umum. Car Free Day masih dianggap hanya sebagai suatu acara/event kota sebagai wadah rekreasi. Kebiasaan untuk tetap menggunakan kendaraan pribadi malah menyebabkan terjadinya kemacetan di jalan-jalan akses menuju lokasi CFD. Kemacetan yang terjadi akan berdampak pada pemborosan bahan bakar dan penambahan gas polutan ke udara sehingga tidaklah mengherankan jika perbedaan kualitas udara saat CFD dan hari biasa tidak begitu kentara. Berdasarkan data Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bandung, penyelanggaraan CFD setiap hari Minggu hanya efektif menurunkan kadar emisi karbon monoksida (CO) sekitar 18,10 persen dan menurunkan kadar debu hingga hanya sebesar  100,5 mikro gram per nano meter kubik. Hal ini masih jauh dibawah pencapaian CFD di Jakarta yang berhasil menurunkan kadar emisi CO sebesar 67 persen, kadar nitrogen monoksida sebesar 80 persen dan kadar debu berkurang sebesar 30 persen.

Minat warga yang tinggi terhadap keberadaan CFD tidak dilewatkan begitu saja oleh para pelaku industri kreatif di Kota Bandung. Mereka memanfaatkan area CFD sebagai tempat memasarkan produk dengan cara menggelar panggung mini serta membagi-bagikan brosur dan pamflet kepada para pengunjung. Kesempatan ini juga dimanfaatkan oleh para pedagang kaki lima (PKL) untuk menjajakan barang dagangannya meskipun sebenarnya Pemkot Bandung telah menyatakan sebelumnya bahwa area CFD steril dari PKL. Hal-hal tersebut menjadi masalah tersendiri karena tingkat kesadaran pengunjung untuk membuang sampah pada tempatnya masih rendah. Padahal Pemkot Bandung telah menyediakan fasilitas kebersihan di sepanjang area CFD.

Padahal, Pemkot Bandung telah menyediakan tempat sampah, baik kering maupun basah. Tempat sampah yang disediakan terdiri dari tong berukuran 120 liter sebanyak 20 buah dan tempat sampah untuk pejalan kaki yang diletakkan di 30 titik sepanjang jalan tersebut.

Sampah yang banyak berserakan, mulai dari sampah plastik, pembungkus makanan, dan brosur yang berasal dari perusahaan-perusahaan yang berpromosi di kawasan tersebut,” ucap Direktur Utama PD Kebersihan, Cece Iskandar saat dihubungi, Senin (28/2/2011) – dikutip dari Inilah.com

Sampah yang dihasilkan dari pelaksanaan CFD di jalan Dago bisa mencapai tiga meter kubik. Padahal, jumlah tersebut berasal dari sampah yang berserakan di sepanjang ruas jalan Dago, bukan dari tempat sampah. Hal ini menunjukkan bahwa pengunjung CFD masih manja dan enggang untuk membuang sampah pada tempat yang telah disediakan. Kondisi ini menjadi sebuah ironi karena di satu sisi kegiatan CFD memiliki misi menyelamatkan lingkungan dengan mengurangi kadar emisi gas polutan udara di Kota Bandung. Namun di sisi lain kegiatan CFD memberikan dampak lingkungan dalam wujud sampah, padahal hingga saat ini kemampuan manajemen sampah yang dimiliki Kota Bandung masih belum efektif.

Kegiatan Car Free Day di Kota Bandung sedikit banyak melenceng dari tujuan awalnya. Saat ini, CFD lebih terkesan sebagai tempat berkumpulnya warga dan sebagai tempat untuk melakukan kegiatan jual beli, kampanye budaya dan promosi komunitas. Karena itu tidaklah mengherankan jika muncul pertanyaan: Masihkan Car Free Day Bandung Berkontribusi Untuk Lingkungan? Semoga saja ke depannya pelaksanaan CFD memberikan perubahan yang positif pada perilaku warga Kota Bandung, baik dalam permasalahan transportasi maupun lingkungan. Jangan sampai istilah Bandung Lautan Sampah terulang kembali.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s