Earth Summit 2012

Rio +20

Seorang pria berjalan melintasi banner pada Earth Summit 2012The Guardian

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) yang diadakan 20-22 Juni 2012 di Rio de Janeiro, Brazil ini merupakan konferensi terbesar yang diadakan oleh United Nations (UN). Seperti dikutip dari The Guardian (23 Jun 2012) konferensi yang dikenal dengan nama Rio+20 Earth Summit ini dihadiri oleh hampir 200 pemimpin negara dan ribuan partisipan baik dari sektor pemerintahan, swasta, NGO dan lainnya. 

Konferensi ini diadakan sebagai kelanjutan dari Earth Summit Rio1992 dengan fokus utama perubahan iklim dan kelangsungan lingkungan hidup. Sekarang, 20 tahun kemudian, publik menaruh harapan yang tinggi terhadap para pemimpin dunia yang nantinya akan hadir dan mewakili masa depan generasi kita dan entah berapa generasi yang akan datang. Seperti terlihat dari hasil pengumpulan suara yang diadakan jelang Rio +20 oleh National Geographic. 55% menginginkan pemerintahnya untuk mengambil peran penting dan membuat komitmen internasional untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan lingkungan, dan hanya 1 dari 20 orang yang tidak ingin negaranya turut berperan dalam pakta internasional yang mendukung lingkungan hidup.

Rio +20 diharapkan dapat menjadi langkah maju untuk menyempurnakan konferensi serupa di Copenhagen 2009, Cancun 2010 dan Durbin 2012 yang telah gagal untuk menentukan kerangka kerja nyata untuk mitigasi perubahan iklim dan kelangsungan lingkungan hidup. Maka, sangat disayangkan ketika ternyata perubahan iklim tidak lagi diajukan dalam daftar tema Rio +20 ini. Fokus dari Rio +20  adalah green economy dalam konteks pembangunan berkelanjutan untuk mengurangi kemiskinan, serta penetapan kerangka kerja untuk rancangan pembangunan berkelanjutan. WHO.int menyebutkan 7 sektor yang akan mendapatkan prioritas, yaitu:

  1. pekerjaan yang layak
  2. Energi
  3. Pembangunan kota berkelanjutan
  4. Ketahanan pangan
  5. Sistem agrikultur yang berkelanjutan
  6. Air
  7. Laut dan mitigasi bencana

Konferensi yang dipuji WHO karena untuk pertama kalinya mencantumkan kesehatan masyarakat sebagai faktor kunci dari pembangunan berkelanjutan  ini ternyata menuai berbagai kekecewaan. Berikut ini merupakan reaksi awal terhadap Rio +20 pada hari pertama konferensi melalui jejaring sosial Twitter yang mewakili beberapa komentar senada.   

This is Rio Minus 20 which Fails on equity, fails on ecology, Fails on economy +20  text longest suicide note in history

– Kumi Naidoo, CEO Greenpeace

Melalui CNN , Kumi Naidoo dan Barbara Stocking juga mengungkapkan kekecewaan atas berkurangnya komitmen dan target yang sebelumnya telah ditentukan pada Agenda 21 yang telah dilahirkan pada Earth Summit tahun 1992. 

One by one, the few proposed commitments and targets were deleted,

– Kumi Naidoo, CEO Greenpeace

Rio will go down as the hoax summit. Paralysed by inertia and in hock to vested interests, too many are unable to join up the dots and solve the connected crises of environment, equity and economy,

– Barbara  Stocking, Oxfam

Kekecewaan publik disebabkan oleh dokumen final sepanjang 53 halaman “The Future We Want“, dokumen ini  dirasa tidak mampu menjawab tantangan global, miskin ambisi dan tanpa target serta tenggat waktu yang jelas. Walaupun, seperti dinyatakan oleh CNN, Sekretaris Jenderal UN Ban Ki-moon mendeskripsikan dokumen tersebut sebagai : landasan sosial, ekonomi, dan kesejahteraan lingkungan dengan afirmasi prinsip-prinsip fundamental, pembaharuan komitmen dan arahan baru. 

Publik menginginkan tindakan yang tegas dan target yang ambisius untuk segera mengatasi masalah yang sedang dihadapi dunia, yaitu carrying capacity yang telah mencapai batas. Perlu diingat juga bahwa sesaat sebelum Rio 20+, di Meksiko negara-negara G20 berkumpul untuk mendiskusikan krisis dan resiko kejatuhan negara-negara Eropa. Dunia sedang menghadapi permasalahan serius yang membutuhkan adanya tindakan cepat dan kesepakatan dunia internasional untuk bergerak bersama. Namun sepertinya sekali lagi bumi dikecewakan. Ketidakhadiran major world leaders, USA, UK, dan German dengan alasan berbeda, meninggalkan negara berkembang seperti Brazil, Russia, India dan Cina yang terkenal sulit untuk berkomitmen terhadap lingkungan untuk mengambil peran besar dalam pengambilan kesepakatan.

Hal ini juga mendapat sorotan berbagai media, diantaranya seperti dikutip dari The Guardian sebagai berikut :

Brazil artfully – and, according to some delegates, aggressively – pushed through the compromise text, thereby avoiding the conflict and chaos that marked the Copenhagen climate conference in 2009. But that also left heads of state and ministers with little but a ceremonial function, wasting an opportunity for political leaders to press for a more ambitious outcome.

Namun diantara berbagai kekecewaan dan pesimisme, terdapat hal-hal penting yang dicapai pada Rio +20  :

(1) UN mengenalkan sistem penghitungan kekayaan negara dengan GDP baru yang disebut dengan Inclusive Wealth Index (IWI). Indeks ini dihitung tidak hanya berdasarkan produk kapital (permesinan, bangunan dll), tetapi juga kapita manusia (pendidikan, kesehatan dll) dan kapita lingkungan (sumber daya alam, daratan dll). Dengan IWI kekayaan negara dapat dihitung lebih akurat dan merefleksikan kualitas hidup masyarakatnya, termasuk kondisi sumber daya alam.

(2) Disetujui adanya penghentikan subsidi bahan bakar fosil mulai 2015. Seperti dikutip dari Huffington post, penghentian subsidi bahan bakar fosil adalah suatu kemenangan baik dari segi ekonomi maupun lingkungan. Suatu hal yang langka dimana keduanya bisa sejalan.

Bagaimana reaksi Indonesia terhadap Rio +20 ?

berikut merupakan kutipan dari beberapa media :

“Dalam Rio +20 ini diperkenalkanlah sebuah model ekonomi yang disebut green economy. Serikat Petani Indonesia (SPI) yang tergabung dalam La Via Campesina  (gerakan petani internasional), bersama ratusan gerakan masyarakat sosial menolak keras konsep green economy ini.

Alasan penolakan tersebut adalah kekhawatiran bahwa konsep green economy yang dibangun dalam sistem ekonomi kapitalis malah akan membuat barang publik seperti air, tanah dan udara menjadi barang privat yang bernilai ekonomi dan akan mempersulit kehidupan manusia-manusia yang selama ini menggantungkan hidupnya pada alam.

La Via Campesina menawarkan alternatif lain berupa pertanian agroekologi, pertanian kecil berbasiskan keluarga. Menurutnya praktek pertanian agroekologi dan pembangunan pasar lokal adalah salah satu langkah strategis untuk membangun sistem ekonomi yang meningkatkan kesejahteraan dan kesetaraan manusia, serta secara signifikan mengurangi kerusakan lingkungan dan kelangkaan sumberdaya alam. 

Di sektor energi, kekecewaan muncul karena energi terbarukan tidak mendapatkan perhatian delegasi Indonesia pada Rio +20 dimana Indonesia berkesempatan untuk mendapatkan dukungan dunia dalam usaha mengurangi emisi Gas Rumah Kaca. Realisasi pengembangan energi terbarukan penting artinya karena dilain pihak Indonesia berjanji akan memotong emisi GRK nya hingga 41 %.

Beberapa menduga kegagalan Rio +20 untuk menghasilkan aksi nyata dalam menyelamatkan lingkungan dan menjawab tantangan krisis global kemungkinan disebabkan oleh besarnya pengaruh korporasi dalam badan UN

“Jelang Rio +20, pengaruh korporasi terus membesar. Friends of the Earth International, bersama La Via Campesina, Jubilee South/Americas, The Transnational Institute, Third World Network, Corporate Europe Observatory, World March of Women mengkritik Draft Awal Deklarasi Rio +20 yang menekankan peran bisnis sebagai promotor ‘ekonomi hijau’ dan membela mekanisme pasar bebas yang tujuan utamanya menguntungkan bisnis; namun draft ini  gagal membuat korporasi bertanggung jawab atas perannya menciptakan krisis finansial, iklim, pangan, dan lain-lain.”

 (sumber : Walhi)

Meskipun “The Future We Want” bukan lah masa depan yang diinginkan publik, tetapi seperti dinyatakan oleh Nick Clegg (British Deputy Minister), setiap negara tetap harus melakukan implementasi di area apapun yang dapat mereka lakukan. Sehingga kemudian pada pertemuan UN selanjutnya dapat diambil suatu kesepakatan yang telah bergerak maju.

“It was never going to be a the great revolutionary summit. It is less ambitious than the original Rio summit? Sure, a lot less. But if we all come away saying it is no where near our expectations we may as well give up and let the sceptics win. It is about political will. There is a set of priorities here that will make us take action if we want to.”

One response to “Earth Summit 2012

  1. Ping-balik: Air Canada Terbang dengan Campuran Biofuel dari Minyak Goreng | Jurnal Hijau·

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s