Paus Sperma : Bagaimana Bisa Sampai Karawang?

KARAWANG — Pada hari Minggu (29/07), sebuah paus sperma (Physeter macrocephalus) yang ditemukan terdampar pada Pantai Tanjung Pakis, Karawang beberapa hari silam tewas beberapa saat setelah dilepas ke lautan dalam.

Paus Sperma di Laut Lepas – Tempo Interaktif

Menurut kronologi yang dipaparkan di Detik News, bayi paus tersebut ditemukan terdampar di Pantai Tanjung Pakis pada hari Rabu (25/07). Paus ditemukan oleh nelayan setempat dengan posisi terbalik dan mata menghadap pasir. Diduga paus terjerat jala nelayan dan terpisah dari kawanannya.

Pada hari Kamis (26/07), berita keberadaan paus tersebut tersebar luas. Sampai hari Sabtu (28/07), bala bantuan terus hadir untuk mengembalikan paus itu kembali ke lautan dalam. Berbagai macam lembaga ikut turun tangan, seperti Jakarta Animal Aid Network (JAAN), SAR, Tagana hingga Pertamina, Pelindo dan Kopassus.

Akhirnya paus sperma itu dapat berenang di lautan berkedalaman 25 m pada hari Sabtu (28/07) pukul 14.00 WIB. Namun pada hari Minggu malam (29/07), tim evakuasi JAAN dan kepolisian Muara Gembong mendapat laporan ditemukannya paus mati di Muara Bendera, Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Paus tersebut diduga sama dengan paus sperma yang kemarin dilepaskan karena kesamaan karakteristik. Saat ditemukan, paus sudah berbau busuk dan mengeluarkan darah.

Beberapa aktivis telah memperkirakan berbagai kemungkinan terkait terdamparnya paus itu. Kemungkinan, karena masih anakan, paus mengalami disorientasi arah. Muncul juga dugaan bahwa paus mengalami keracunan ginjal saat terdampar sebelumnya.

Bagaimana bisa ada paus di Laut Jawa?

Fahmi, peneliti dari Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan bahwa paus sperma mengalami disorientasi arah.

“Secara logika, Laut Jawa yang dangkal tidak mungkin menjadi jalur migrasi paus sperma. Jalur migrasi paus sperma adalah mulai perairan Bali-Lombok kemudian ke utara lewat Selat Makassar,” jelas Fahmi.

Fahmi juga menambahkan bahwa disorientasi dapat terjadi akibat suara kapal atau pengeboran minyak yang mengganggu navigasi paus. Physeter macrocephalus merupakan salah satu spesies dari ordo Cetacea yang memiliki kemampuan echolocation–menggunakan suara untuk navigasi. Keberadaan suara asing dapat sangat mengganggu navigasinya.

Selain itu, anakan Physeter macrocephalus secara umum masih membutuhkan induk untuk bertahan hidup. Menurut Encyclopedia of Marine Mammals, paus sperma betina dan anaknya hidup berkelompok, sementara paus sperma jantan hidup di luar kelompok setelah mencapai usia 4-21 tahun. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa paus sperma anakan mengalami kesulitan bertahan hidup sendiri.

Menurut National Geographic Indonesia, terdapat empat kemungkinan paus sperma tersebut mengalami disorientasi arah. Pertama, paus sedang sakit sehingga kondisi tubuhnya tidak optimal. Umumnya, paus yang sakit akan dilindungi oleh paus-paus lain dalam flock. Formasi perlindungan ini disebut Marguerite formation, yang menyerupai bentuk bunga.

Kedua, paus mengalami disorientasi karena adanya sonar frekuensi rendah yang dipancarkan peralatan manusia. Setiap spesies dalam ordo Cetacea memiliki frekuensi suara khas. Paus sperma mengeluarkan suara yang berfrekuensi sekitar 4 kHz. Dengan begitu, paus sperma akan merespon pada bunyi dengan frekuensi sama, yang akan diduga sebagai kawanan paus sperma lainnya. Sementara itu, kapal laut umumnya mengeluarkan bunyi dengan frekuensi 3-4 kHz. Kapal-kapal tersebut mampu mengganggu orientasi paus sperma.

Ketiga, cuaca yang tidak mendukung. Cuaca mempengaruhi kecepatan angin, tekanan udara, arah angin hingga aktivitas elektrik. Petir yang dihasilkan dari hujan secara psikis mengganggu paus dan menghasilkan disrupsi pada sistem sarafnya. Paus juga dapat terjebak di antara gelombang air.

Keempat, gravitasi bulan dan bintik matahari. Gravitasi bulan mempengaruhi pasang air laut. Menurut penemuan di Teluk Hanalei, Hawai’i, fenomena “whale stranding”, atau paus terdampar, banyak ditemukan saat bulan purnama. Diduga bahwa paus cenderung berenang lebih jauh saat air sedang pasang, lalu terdampar ketika air surut.

Sementara itu, teori bintik matahari belum terbukti signifikan. Peneliti asal Jerman, Klaus Vaneslow dan Klaus Ricklefs, menunjukkan bahwa fenomena paus terdampar paling banyak terjadi saat aktivitas matahari sedang tinggi. Namun kaitannya dengan navigasi paus belum terdefinisikan dengan pasti.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s