Memanen Biofuel dari Kayu

Kayu tersusun dari tiga komponen utama: lignin, selulosa dan hemiselulosa – Biomass Magazine

WISCONSIN –  Baru-baru ini tim peneliti dari Wisconsin Institute for Sustainable Techonology (WIST) yang terletak di University of Wisconsin-Stevens Point telah mematenkan sebuah metode dalam proses pembuatan biofuel dan produk lainnya dari bahan baku material selulosa. Bahan baku tersebut dapat berasal dari berbagai jenis tanaman, termasuk juga residu industri pertanian ataupun tanaman khusus produksi biofuel. Paten tersebut melindungi metode penggunaan pelarut khusus untuk memisahkan biomassa menjadi selulosa dan lignin murni.

Metode yang dipatenkan sebenarnya merupakan improvisasi dari teknik pemisahan konvensional yang sudah lama digunakan industri kertas untuk memisahkan lignin dari selulosa. Sayangnya teknik konvensional tersebut menghasilkan selulosa yang mengandung inhibitor sehingga sulit untuk dikonversi menjadi gula. Lignin yang dihasilkan pun masih mengandung zat kimia tambahan yang sulit untuk dipisahkan.

“This gives us an economically viable way to use grass, trees or wood waste to make renewable fuels and chemicals. It also gives us a method to commercialize some of the work we’ve done at the university,” jelas Erci Singsaas, associate professor biologi University Wisconsin-Stevens Point dan juga penemu metode yang dipatenkan, bersama dengan rekannya, Don Guay, associate professor ilmu dan rekayasa kertas – WIST

Selain digunakan secara konvensional, seperti bahan baku kertas, selulosa murni juga dapat dikonversi menjadi gula fermentasi. Gula tersebut dapat digunakan untuk membuat biofuel yang sampai saat ini masih menggunakan tanaman pangan sebagai sumber bahan baku. Selain itu, gula hasil fermentasi juga dapat digunakan untuk membuat zat kimia untuk industri yang bersifat renewable, salah satunya adalah isoprene. Zat ini banyak digunakan dalam industri karet, plastik dan obat-obatan, yang sayangnya hingga saat ini masih bersumber dari minyak bumi.

Guay menjelaskan bahwa lignin murni hasil proses pemisahan memiliki potensi yang lebih besar dibandingkan penggunaannya saat ini. Pada teknik konvensional, lignin biasanya dibakar untuk memulihkan zat kimia anorganik dari proses pembuatan pulp dan untuk energi tambahan. Lignin murni dapat digunakan untuk membuat serat karbon, bahkan Guay menambahkan bahwa metode temuannya memiliki nilai tambah karena pelarut yang digunakan dapat diperbarui bersamaan dengan berlangsungnya metode, sehingga membuat metode teresebut bersifat mandiri (self-sustaining).

Metode ini dirancang secara spesifik agar penerapan modifikasi pada infrastruktur pabrik kertas yang dilakukan seminimal mungkin. Singsaas berharap metode yang ditemukannya dapat menambah sumber profit untuk pabrik kertas, membuka lapangan pekerjaan baru dan turut membantu pertumbuhan ekonomi regional.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s