Papandayan : Kemarau Berkepanjangan dan Kebakaran Hutan

GARUT — Telah terjadi kebakaran hutan pada hari Selasa (21/08) pukul 12.00 di kawasan Taman Wisata Kawah Gunung Papandayan. Kebakaran terjadi pada Blok Cipanas, Desa Sirnajaya, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, tepatnya di ketinggian 2.000 mpl. Pada hari Jumat (24/08), dikabarkan bahwa kebakaran meluas ke arah Pegunungan Walireng.

Papandayan dari kejauhan – City Directory Online

Penyebab kebakaran belum diketahui. Pipin (50), seorang tokoh masyarakat setempat, menduga bahwa percikan api disebabkan oleh pepohonan di kawasan hutan Blok Cipanas  dalam kondisi kering akibat kemarau panjang. Hal tersebut diperparah dengan kondisi angin kencang.

Berbagai macam upaya telah dilakukan agar api tidak merambat. Beberapa pohon ditebang agar areal kebakaran terbatas. Namun api terus menjalar melalui tumbuhan-tumbuhan perambat.

Kepala Sub-Seksi Humas Perhutani Unit III Jawa Barat-Banten, Dadang P. H., menjelaskan bahwa tidak ada korban jiwa pada kebakaran tersebut.

Pada hari Jumat (24/08), tim yang tergabung dari TNI, relawan dan warga diturunkan ke lokasi kebakaran. Tim bertugas memadamkan titik-titik api dan melakukan upaya penyekatan agar api tidak meluas.

Menurut informasi terbaru,  sejumlah titik api sudah mulai padam. Akan tetapi, asap masih terlihat pada beberapa titik. Tim akan terus diturunkan hingga kebakaran padam.

Papandayan Bukan Satu-satunya

Menurut Mongabay Indonesia, beberapa peristiwa kebakaran hutan lainnya juga terjadi di Indonesia.

Pada Hutan Kedu Utara, Gunung Sindoro, Jawa Tengah, telah tiga kali terjadi kebakaran di tahun 2012. Area pada ketinggian 3.000 mdpl diketahui telah mengering.

Di kawasan puncak Gunung Sindoro, Jawa Tengah, tahun ini sudah tiga kali terjadi kebakaran. Kini, kawasan pada ketinggian 3.000 meter di atas permukaan laut itu mengering. Salah satu pihak dari Hutan Kedu Utara mengungkapkan bahwa penutupan jalur pendakian telah dilakukan untuk mengurangi aktivitas masyarakat.

Telah dilakukan juga penutupan jalur pendakian di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Kementerian Kehutanan telah menutup jalur selama bulan Agustus 2012, yang merupakan bulan terkering.

Selain gunung, kebakaran juga terjadi di hutan lindung Bukit Serelo dan Bukit Kenubut di Kecamatan Merapi, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan pada hari Rabu (23/08) pukul 17.00. Diperkirakan bahwa luas hutan pada wilayah tersebut berkurang setiap tahun akibat kebakaran.

“Kedua bukit ini sudah pernah terbakar saat musim kemarau 2011, namun tidak sampai ke Bukit Serelo.” kata Sekretaris Desa Ulak Pandan Syariful Elmi ke Antara.

Pada hari Rabu sebelumnya (8/08), terjadi juga kebakaran di Bukit Pulaki, Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Bali. Api yang membakar kawasan semak dan rumput liar ikut menghanguskan kawasan hutan di Bukit Buleleng Barat.

Sebelumnya (2/08), Bukit Amurang, Minahasa Selatan, juga terbakar.

Kemarau Berkepanjangan Dapat Menyebabkan Kebakaran Hutan

Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa kebakaran hutan terjadi akibat kemarau atau kekeringan yang berkepanjangan.

Suhu udara global yang semakin tinggi diduga menjadi penyebab utama kekeringan. Suhu yang lebih tinggi mengakibatkan tingkat evaporasi yang lebih tinggi pada ekosistem terestrial. Evaporasi yang lebih tinggi dapat mempercepat proses kekeringan pada tanah dan vegetasi, terutama pada musim kemarau. Selain itu, tingkat curah hujan pun menjadi lebih rendah.

Tingkat evaporasi yang lebih tinggi dan curah hujan yang lebih rendah dapat menyebabkan kemarau atau kekeringan yang lebih panjang. Kekeringan yang terjadi dalam periode yang lebih lama dapat menyebabkan kebakaran hutan.

Union of Concerned Scientists mengungkapkan bahwa El Nino di tahun 1997-1998 sangat erat hubungannya dengan kebakaran hutan pada beberapa lokasi di dunia, seperti Indonesia, Rusia, Brazil, Amerika Tengah dan Florida. Banyak hasil penelitian yang menunjukkan bahwa angin yang kencang dapat mengurangi kadar air tumbuhan. Jika dikombinasikan dengan musim kemarau panjang, kekeringan yang terjadi menjadi lebih fatal.

Menurut literatur, frekuensi fenomena kekeringan meningkat sejak akhir tahun 1970an. Fenomena tersebut umumnya diikuti oleh laporan adanya El Nino. Studi terbaru menunjukkan bahwa perubahan iklim dapat menimbulkan aktivitas El Nino yang stabil di wilayah Pasifik, dengan sedikit interval La Nina.

Jika frekuensi El Nino meningkat, maka frekuensi kekeringan dan kebakaran hutan juga akan meningkat. Frekuensi yang tinggi dapat menghambat regenerasi banyak ekosistem, terutama hutan hujan tropis.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s