Dunia Terancam Menjadi Vegetarian di 2050

STOCKHOLM — Baru-baru ini, beberapa ilmuwan hidrologi di Swedia mengeluarkan pernyataan yang cukup menggemparkan. Mereka berhipotesis bahwa pada tahun 2050, sebagian besar penduduk dunia tidak akan bisa mengonsumsi daging.

Kebun Bayam di Texas, Amerika Serikat

Kebun Bayam di Texas, Amerika Serikat – Texas A&M AgriLife

Menurut Guardian.co.uk, 20% dari diet umum sehari-hari manusia merupakan produk asal hewan. Orion James mengemukakan bahwa aktivitas peternakan membutuhkan lima sampai 10 kali lebih banyak air. “A third of current farmland is used to grow crops that feed animals.”

Banyak ilmuwan menyarankan agar manusia menurunkan konsumsi hasil ternak hingga 5% untuk mencegah kekurangan air. Bahkan, Stockholm International Water Institute mengungkapkan bahwa persediaan air di Bumi pada tahun 2050 tidak mampu untuk mengakomodasi aktivitas peternakan. Akibatnya, seluruh penduduk dunia terancam menjadi vegetarian.

“There will not be enough water available on current croplands to produce food for the expected 9 billion population in 2050 if we follow current trends and changes towards diets common in western nations.”
-Stockholm International Water Institute

Beberapa pihak mempertanyakan solusi lain untuk menanggulangi hal tersebut, misalnya dengan memproduksi makanan lebih banyak.

Namun menurut laporan tersebut, 9 biliun penduduk telah diakomodasi dengan 70% dari seluruh persediaan air di Bumi. Produksi makanan yang diperbanyak akan meningkatkan stress pada lahan dan air.

Lebih Sedikit Daging, Lebih Baik

Selain karena alasan ekologis, banyak ilmuwan yang menyarankan agar konsumsi daging diturunkan untuk alasan kesehatan, terutama daging merah.

Menurut USDA, seseorang disarankan untuk mengonsumsi daging sebanyak 4-8 ons per hari. Namun, konsumsi daging per hari seorang penduduk Amerika Serikat dapat mencapai 9 ons.

Harvard School of Public Health menyatakan bahwa meskipun daging mengandung protein yang cukup, daging juga mengandung kadar lemak yang tinggi. Daging merah sendiri mengandung lemak jenuh dalam kadar tinggi.

Sementara itu, orang yang menjalani diet berbasis nabati cenderung selalu dalam keadaan sehat.

Banyak penelitian membuktikan bahwa tumbuhan kaya akan serat–karena memiliki kadar selulosa yang tinggi–juga mineral. Produk-produk nabati tertentu seperti tahu, tempe, kacang-kacangan dan gandum diketahui memiliki kadar protein tinggi, tanpa mengandung lemak jenuh seperti produk hewani.

“There are literally hundreds of thousands of protective substances that you find in fruits and vegetables and whole grains and legumes and soy products that prevent disease,”
– Dean Ornish, M.D., Preventive Medicine Research Institute

Jadi, masa depan dengan absensi daging bukan sepenuhnya pertanda buruk. Mungkin memang sudah saatnya manusia mengevaluasi kembali pola makannya untuk hidup lebih sehat.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s