Soekarno-Hatta Menuju Eco-airport

JAKARTA – Pada Kamis, 2 Agustus 2012, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan peletakan tiang pancang pertama (ground breaking) sebagai simbol peresmian dan dimulainya proyek pengembangan Bandar Udara Soekarno-Hatta. Presiden memaparkan beberapa hal yang mendasari dilakukannya proyek yang ditargetkan akan rampung pada tahun 2014 ini. Alasan utama yaitu sehubungan dengan pertumbuhan ekonomi yang mencapai enam persen dan produk domestik bruto (gross domestic product/GDP) sebesar 1 triliun dollar AS telah menyebabkan peningkatan kebutuhan, termasuk kebutuhan terhadap jasa angkutan udara. Di samping beberapa manfaat ekonomi lain seperti terciptanya lapangan kerja baru, industri turunan, dan Soekarno-Hatta sebagai gerbang Indonesia yang merupakan salah satu potensi wisata di Kawasan Asia Pasifik.

Grand Desain Bandara Soekarno-Hatta – Jambitourism

Beberapa rencana untuk mengembangkan bandara yang telah beroperasi sejak tahun 1985 ini terangkum dalam Grand Desain Bandar Udara Soekarno-Hatta yang meliputi:

  1. Revitalisasi dan pengembangan terminal serta rencana pembangunan terminal baru dalam upaya untuk meningkatkan kapasitas bandar udara
  2. Aksesibilitas meliputi pembangunan sistem pelayanan kereta api terpadu dari dan menuju bandara, revitalisasi bus dan shuttle, dan penambahan taxiway
  3. Pembangunan integrated building termasuk pembangunan akses dan interchange station sebagai konektivitas antar terminal
  4. Pengembangan area komersial, penambahan area publik, serta fasilitas penunjang lainnya

ECO-AIRPORT

Konsep ecoairport yang sedang ramai diperbincangkan tak luput dari target proyek pengembangan ini. Konsep eco-airport sendiri merupakan salah satu bentuk tanggung jawab sektor industri, dalam hal ini industri jasa penerbangan terhadap keberlanjutan dan manajemen lingkungan. Sektor penerbangan melalui sisa buangan bahan bakar pesawat terbang berupa karbon dioksida dan uap air memberikan kontribusi sekitar 2,2 % terhadap perubahan iklim. Kisaran ini tergolong kecil jika dibandingkan dengan kontribusi transportasi darat pada perubahan iklim yaitu sekitar 14 %.  Selain kedua komponen tersebut, juga terkandung nitrogen oksida yang memiliki relevansi dalam pembentukan sekaligus penguraian lapisan ozon. Pengurangan emisi polutan udara dan gas rumah kaca menjadi prioritas utama dalam konsep eco-airport, seperti yang tertuang dalam Eco-airport Master Plan Narita Airport di Jepang. Setidaknya ada 3 prioritas utama dalam implementasi eco-airport:

  1. Pengurangan emisi polutan udara (NOx)
  2. Pengurangan emisi gas rumah kaca
  3. Pengurangan produksi limbah dan penggalaan konsep daur ulang

Sumber Narita Airport Masterplan

Namun, secara keseluruhan pelaksanaan konsep eco-airport tidak hanya terfokus pada ketiga hal yang telah disebutkan. Lebih jauh, konsep ini merupakan integrasi dan sinergi dari setiap komponen yang ada di dalam suatu bandar udara, baik infrastruktur maupun pelayanan, bersama-sama untuk menciptakan lingkungan dan perkembangan yang berkelanjutan (Sustainable Development). Setidaknya ada beberapa komponen yang patut untuk diperhatikan dalam konsep eco-airport, yaitu kualitas udara, kebisingan, air, tanah, limbah, penggunaan energi, dan kondisi lingkungan alami.

Upaya-upaya untuk mencapai target eco-airport tentu dikembalikan lagi pada pihak pengelola bandar udara. Banyak cara untuk menciptakan lingkungan bandar udara yang ramah lingkungan dari berbagai aspek. Dari segi lansekap misalnya, penataan ruang-ruang terbuka, taman vegetasi, pemilihan jenis vegetasi dan stratifikasi yang mampu menyerap polutan, sistem pengelolaan limbah yang dapat mengakomodasi volume limbah disamping juga penggalaan sistem daur ulang bagi limbah dengan karakteristik tertentu, hingga penggunaan alat-alat untuk mendukung efisiensi energi seperti panel surya dan penggunaan LED.

Menuju bandar udara yang sepenuhnya mengimplementasikan konsep eco-airport tentu bukan hal yang mudah. Konsep ini telah diimplementasikan di Jepang melalui Bandara Narita, New Chitose, dan Tokyo Internasional Airport. Disusul oleh negara-negara ASEAN lainnya termasuk Bandara Soekarno-Hatta di Indonesia. Indonesia melalui Kementerian Perhubungan telah menginstruksikan untuk segera mengimplementasikan konsep ini pada seluruh pengelola bandar udara baik PT. Angkasa Pura I, PT. Angkasa Pura II, maupun Kepala Badan Unit Pelaksanaan Teknis (UPT). Ada beberapa hal yang dapat menjadi rekomendasi dan perlu untuk diperhatikan dalam pelaksanaan konsep ini:

  1. Ketersediaan infrastruktur, sarana, dan fasilitas bandara yang memadai demi terciptanya kondisi penerbangan dan lingkungan bandar udara yang ramah lingkungan. Termasuk teknologi yang digunakan dalam mesin pesawat sesuai dengan kebijakan masing-masing maskapai penerbangan.
  2. Finansial yang baik guna memenuhi kebutuhan perawatan, pengadaan, dan kebutuhan lainnya.
  3. Sumber daya manusia yang memahami sepenuhnya konsep eco-airport serta memiliki kemampuan baik managerial, operasional, maupun teknis yang dapat mendukung keberlanjutan konsep ini.
  4. Adanya regulasi yang tegas termasuk implementasi serta sanksi yang diberikan kepada siapapun yang terbukti melanggar peraturan yang telah disepakati bersama.
  5. Terakhir adalah koordinasi dan kerjasama semua komponen serta pemangku kepentingan (stakeholder) baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat

Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Bandar Udara Soekarno-Hatta untuk memenuhi dan memperhatikan komponen-komponen tersebut demi terwujudnya bandar udara yang ramah lingkungan. Bisa atau tidaknya akan bergantung pada kesiapan dan pemahaman seluruh pemangku kepentingan. Adanya proyek pengembangan Bandara Soekarno-Hatta ini memberikan harapan bagi siapapun yang berharap agar bandara ini mampu bersaing dengan bandara-bandara internasional lainnya yang telah diakui predikat dan pelayanannya yang prima. Di samping itu, juga diharapkan kemegahan yang nantinya akan terwujud tidak akan bersinggungan dengan aspek lingkungan dan sosial masyarakat terutama yang berada di sekitar bandara seperti pembebasan lahan, kesejahteraan, dan juga pembukaan lapangan kerja. Sudah saatnya Indonesia memiliki ‘pintu gerbang’ sebagai salah satu simbol negara yang tidak hanya mewah, namun juga tetap memperhatikan setiap sisi yang berdampingan dengannya.

2 responses to “Soekarno-Hatta Menuju Eco-airport

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s