Tragedi Orangutan dan Kelapa Sawit : Haruskah Begitu?

Baru-baru ini, pecinta satwa liar dikejutkan dengan berita orangutan terbakar.

Menurut Metro TV, seekor orangutan di Desa Wajok Hilir, Pontianak, Kalimantan Barat terbakar ketika hendak diusir oleh warga dari kebun kelapa sawit. Warga membakar pohon tempat orangutan memanjat sebagai upaya untuk mengusirnya.

Hal ini bukan cerita baru. Sudah sejak lama orangutan menjadi korban dari industri perkebunan kelapa sawit.

Liputan 6 melaporkan bahwa, sejak 10 tahun terakhir, sebanyak 12.000 orangutan mati terbunuh di seluruh Indonesia akibat ulah manusia.

Berdasarkan Population and Habitat Viability Assessment tahun 2004, jumlah orangutan Kalimantan sekitar 50.000, dan Sumatra 6.667, dan Borneo 54.567. Selain itu, habitat orangutan saat ini hanya tersisa di Pulau Sumatera (Sumatera Utara dan D. I. Aceh) dan Kalimantan (Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur).

Masih adakah hutan rimbun untuk orangutan kita? – Frogface Bennett

Sementara kelapa sawit diduga sebagai penyebab utama punahnya orangutan, kita tidak bisa memungkiri bahwa industri kelapa sawit telah meningkatkan ekonomi Indonesia secara signifikan.

Menurut laporan World Growth pada tahun 2011, kelapa sawit telah menjadi produk agrikultur utama di Indonesia. Tingkat ekspor minyak kelapa sawit jauh melebihi laju produksi beras. Akibatnya, pada beberapa tahun terakhir, Indonesia menikmati devisa yang lebih tinggi dan lapangan kerja yang lebih luas. Kita juga jangan lupa dengan meningkatnya kualitas hidup ribuan keluarga di tanah air.

Mengapa minyak kelapa sawit menjadi aset yang besar bagi Indonesia?

Menurut United States Department of Agriculture, minyak kelapa sawit memiliki harga jual yang lebih ekonomis dibandingkan minyak produksi barat seperti olive oil dan sunflower oil. Minyak kelapa sawit juga dikenal dengan stabilitas oksidasi yang tinggi, sehingga menghasilkan makanan gorengan yang lebih berkualitas.

Selain itu, kelapa sawit hanya dapat ditumbuhkan pada daerah tropis. Cocok untuk dibudidayakan di wilayah Indonesia.

Kualitas-kualitas tersebut membuat minyak kelapa sawit menjadi produk incaran di industri makanan komersil. Pada tahun 2009, industri minyak kelapa sawit dipimpin oleh Indonesia, sehingga tidak heran banyak konsumer berbondong-bondong membeli minyak kelapa sawit tanah air.

Saat ini, Indonesia sedang menikmati pertumbuhan ekonomi yang positif. Salah satu pihak yang perlu kita banyak berterima kasih adalah industri minyak kelapa sawit.

Akan tetapi, mengapa jumlah orangutan berbanding terbalik dengan jumlah kebun kelapa sawit?

Menurut banyak penelitian, orangutan adalah spesies primata yang diketahui berhabitat pada hutan tropis dataran rendah. Sejak Orde Baru, sebagian besar hutan tropis dataran rendah ditebang untuk berbagai macam fungsi, seperti permukiman, pertambangan, perkebunan, dan aktivitas manusia lainnya.

Sebuah penelitian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menunjukkan bahwa radius pergerakan seekor orangutan mencapai satu hektar. Dengan semakin banyaknya hutan terfragmentasi, sangat mungkin untuk orangutan memasuki wilayah permukiman manusia, terutama jika wilayah habitat dan persediaan makanan menipis.

Sebagai herbivora, orangutan pada dasarnya memakan buah-buahan. Maka, adalah hal yang alami jika orangutan menginvasi perkebunan kelapa sawit. Ketika hutan tempat ia tinggal sudah tidak menyediakan makanan atau semakin sempit wilayahnya, sebuah kebun kelapa sawit tampak seperti alternatif yang menggiurkan bagi orangutan.

Melihat banyak kasus berkurangnya orangutan serta meningkatnya kebun kelapa sawit, terbesit sebuah pertanyaan: tidak bisakah industri minyak kelapa sawit maju bersama kelestarian orangutan?

Pemerintah Indonesia seharusnya lebih tegas dalam mengatasi permasalah kebun kelapa sawit dengan orang hutan.

Salah satu bentuk ketidaktegasan pemerintah dalam mengatasi hal tersebut adalah dalam menentukan zonasi hutan. Tempo melaporkan bahwa orangutan tetap terancam meskipun di dalam area konservasi sekalipun. Kabarnya, terjadi sengketa lahan antara perusahaan perkebunan kelapa sawit dan pertambangan.

Dari maraknya berbagai macam industri di tanah air, terlihat bahwa pemerintah memposisikan Indonesia sebagai negara yang kaya sumber daya alam. Karena itu, Indonesia menjadi tempat berinvestasi yang ideal. Tidak hanya usaha perkebunan, usaha lain seperti pertambangan dan migas ikut berinvestasi. Namun, Indonesia sering lupa untuk memposisikan diri sebagai negara megabiodiversitas.

Sudah sepantasnya kegiatan manusia akan merusak lingkungan dan alam. Karena itu, praktek usaha perlu dikelola. Pengelolaan ini diatur dalam berbagai perundang-undangan dan peraturan. Akan tetapi, tidak jarang kita lihat hukum sulit ditegakkan di negara ini. Salah satu contohnya adalah dalam hal pemberian izin Kontrak Karya pada wilayah terlindungi.

Hal ini sangat disayangkan. Indonesia dapat tetap menjadi pemimpin pasar minyak kelapa sawit tanpa perlu mengorbankan habitat orangutan. Pemerintah perlu mempertegas pemberian izin area Kontrak Karya pada investor serta mempraktekkan inovasi-inovasi agrikultur seperti intensifikasi.

Kita perlu ingat bahwa orangutan juga aset penting yang perlu kita lindungi. Tidak hanya itu, melindungi orangutan adalah sesuatu yang secara naluriah harus kita lakukan.

Haruskah hubungan orangutan dan kebun kelapa sawit berakhir tragis? Jika keduanya bisa jalan bersama, mengapa tidak kita upayakan?

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s