Indonesia Ring of Fire : Potensi Geothermal Indonesia

Isu efisiensi energi yang semakin marak dibicarakan akhir-akhir ini meninggalkan tanda tanya. Sudah sejauh mana negara kita mampu mengelola sumber energi yang ada dan sesiap apa negara kita untuk membangun sumber energi baru?

Potensi Geothermal Indonesia –  The New Ecologist

Salah satu potensi sumber energi terbesar di Indonesia adalah energi panas bumi. Indonesia setidaknya menyimpan 28,994 MWe (megawatt-elektrikal) potensi panas bumi, namun hingga saat ini hanya sekitar 4 % atau 1,2 MWe yang telah dimanfaatkan. Jumlah ini masih sangat jauh  jika dibandingkan dengan Filipina yang telah mengeksplorasi hingga 70% dari total potensi panas buminya. Badan Survey Geologi Kolonial Belanda (DGCS) pertama kali memetakan potensi energi panas bumi di awal abad 20. Pada tahun 1969 eskplorasi lebih lanjut dilakukan oleh Survey Geologi Indonesia. Pada tahun 2011 tercatat dari sekitar 276 area geothermal di Indonesia, 37 diantaranya merupakan area pertambangan (WKP [Wilayah Kerja Pertambangan]) dengan potensi panas bumi sebesar 7,376 MWe. Semakin pesatnya pertumbuhan ekonomi di Indonesia menyebabkan adanya peningkatan kebutuhan energi, sementara hingga saat ini, Indonesia masih sangat bergantung pada sumber energi fosil. Jika hal ini terus terjadi, maka diperkirakan 2 atau 3 dekade yang akan datang, akan terjadi krisis energi yang semakin parah.

Potensi geothermal di Indonesia tidak hanya mengingat cadangannya yang sangat besar, namun juga pertimbangan ekonomi dan ketahanan energi nasional jika sektor ini bisa dikembangkan dan dikelola dengan baik. Pengurangan emisi yang bersumber dari pembakaran sumber energi fosil dan pengurangan beban subsidi energi dapat dilakukan. Geothermal yang bersifat site specific sangat menguntungkan mengingat sifatnya yang tidak dapat disimpan dan tidak dapat ditransportasikan dalam jarak yang jauh membuat sumber ini tidak dapat menjadi komoditi ekspor, sehingga akan lebih stabil dan terhindar dari fluktuasi harga energi di dunia.

Keuntungan lain dari pemanfaatan geothermal adalah rendahnya emisi yang dihasilkan. Beberapa studi menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas geothermal dapat mengurangi tingkat emisi gas rumah kaca (GRK) terutama CO2. Menurut laporan WWF’s Ring of Fire Geothermal Scenario, potensi geothermal diperkirakan dapat mengurangi emisi tahunan hingga 13,6 juta ton CO2 pada tahun 2015 dan 19,8 juta ton pada tahun 2020.

Geothermal dan Konservasi

Salah satu karakter potensi geothermal yang cukup unik sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia adalah letak sumber-sumber panas bumi yang berada di dalam Kawasan Hutan Lindung.  Sekitar 42 %  atau lebih dari 12 GW dari total sumber panas bumi terletak di Kawasan Hutan Lindung (Kementerian ESDM 2012) yang dilindungi dalam Undang-undang Republik Indonesia. Beberapa kemungkinan dampak terhadap konservasi hutan akibat pengembangan sektor ini mungkin saja terjadi. Beberapa diantaranya adalah kemungkinan hilangnya ekosistem hutan dan terestrial, buangan hasil sampingan seperti hidrogen sulfida selama tahap operasional, dan sensitivitas ekosistem hutan terhadap aktivitas manusia yang dapat mengakibatkan peningkatan stress pada beberapa organisme.

Maka dari itu diperlukan adanya keseimbangan antara pengembangan potensi geothermal dan konservasi hutan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan Kementerian Kehutanan telah menyepakati kerjasama dan kesepahaman yang tertuang dalam Memorandum of Understanding No.7662 tahun 2011 tentang Koordinasi dan Percepatan Perizinan Pengusahaan Panas Bumi Pada Kawasan Hutan Produksi dan Kawasan Hutan Lindung serta Pengembangan Panas Bumi pada Kawasan Konservasi. Diharapkan dengan adanya kesepakatan ini maka pengembangan sektor panas bumi dan konservasi dapat berjalan beriringan sekaligus menarik minat investor untuk menanamkan modal mengingat masih minimnya minat investasi dikarenakan ketakutan untuk menanamkan modal pada sektor yang masih tergolong “sangat muda” di Indonesia ini. Jika dikelola dan dikembangkan dengan teknologi terbaik, justru sektor ini dapat membantu dan menopang kehidupan komunitas-komunitas yang menggantungkan hidupnya pada hutan serta memberikan insentif pada program pengelolaan hutan. Hal ini dapat tercapai dengan adanya alokasi pendanaan yang ‘tepat’ dan ‘adil’ dari total pendapatan yang dihasilkan dari pengembangan energi panas bumi untuk konservasi hutan dan community development.

Tantangan Pengembangan Energi Panas Bumi

Jika Indonesia benar-benar ingin membenahi sekaligus mempertahankan ketahanan energi nasional, maka seharusnya pemerintah sudah benar-benar fokus untuk mengembangkan sumber energi baru, bukan dengan membuang-buang uang melalui subsidi, sehingga ketergantungan akan sumber energi fosil dapat sedikit demi sedikit dikurangi. Langkah-langkah strategis dan regulasi yang sudah dibuat harus segera diimplementasikan sampai ke tingkat daerah dan provinsi, tidak lagi hanya sebatas pada tingkat presiden dan kementerian. Selain itu karakteristik energi panas bumi yang lebih ‘ramah lingkungan dan rendah emisi’ harus selalu dipertahankan, demikian juga nantinya jika sektor ini dikembangkan dalam skala industri yang semakin besar. Jangan sampai ekosistem yang telah memberikan sumber energi secara ‘cuma-cuma’ justru dikesampingkan hak-haknya.

Seluruh pemangku kepentingan baik pemerintah maupun swasta, praktisi, akademisi, hingga seluruh elemen masyarakat harus sadar bahwa kegiatan eksplorasi nantinya bukan hanya untuk kepentingan satu pihak atau hanya untuk meraup untung yang sebesar-besarnya. Namun lebih dari itu kegiatan tersebut dilakukan atas dasar kepentingan bersama, untuk mencukupi kebutuhan energi sekaligus meningkatkan ketahanan energi nasional. Sehingga nantinya diharapkan tidak ada kepentingan yang bersinggungan, hak-hak yang terkesampingkan, dan tentunya selalu seimbang dengan keberlanjutan lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s