Jakarta’s Giant Sea Wall : Efektifkah?

JAKARTA – Rencana pembangunan Dinding Laut (Sea Wall) merupakan salah satu rencana pembangunan infrastruktur yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam 10 tahun ke depan. Penyusunan masterplan tengah dipersiapkan dan ditargetkan dalam waktu dekat, konsultan pemenang tender dapat diumumkan sehingga kegiatan konstruksi dapat dimulai. Pembangunan sea wall berhubungan erat dengan kondisi fisik Kota Jakarta yang semakin memprihatinkan. Hasil penelitian Jakarta Coastal Defence Strategy (JCDS) menyebutkan bahwa setiap tahunnya Jakarta mengalami penurunan tanah sekitar 3,98 cm per tahun dan saat ini sekitar 40 % bagian Jakarta berada di bawah permukaan laut. Isu semakin berkembang dengan munculnya berbagai prediksi yang menyebutkan bahwa wilayah Jakarta yang berada di bawah permukaan laut akan semakin meluas dalam beberapa tahun mendatang dan salah satu puncak ketakutan terbesar adalah “tenggelam”nya Kota Jakarta. Peningkatan muka air laut sebagai dampak dari pemanasan global juga menjadi salah satu alasan di balik rencana megaproyek ini. Meskipun secara kuantitas efek mencairnya es di daerah kutub sebagai akibat dari pemanasan global terhadap Kota Jakarta sangat kecil, namun bersama dengan kondisi permukaan tanah yang terus mengalami penurunan, kedua hal ini menjadi salah satu penyebab seringnya musibah banjir menerjang Kota Jakarta.

Sea Wall – Socialphy

Rencana pembangunan sea wall ini merupakan integrasi dari keseluruhan usaha-usaha yang telah dilakukan di beberapa titik pesisir Jakarta seperti di daerah Pluit, termasuk usaha reklamasi pantai. Maka, PemProv Jakarta melalui dana hibah dari Belanda mulai merencanakan pembangunan sea wall sebagai upaya untuk “menyelamatkan” Jakarta dari berbagai dampak turunan akibat fenomena-fenomena alam tersebut. Tanggul raksasa direncanakan untuk membendung laut di pantai utara Jakarta sepanjang 35 kilometer. Pembendungan akan dilakukan mulai dari wilayah Tanjung Burung, Tangerang hingga ke Tanjung Priok, dan dari Tanjung Priok sampai di Muara Gembong, Bekasi.

Sea Wall

Sea wall merupakan salah satu bentuk konstruksi sebagai upaya perlindungan wilayah coastal, habitat, konservasi, maupun aktivitas-aktivitas manusia dari pengaruh gelombang air laut. Tipe sea wall sangat bergantung dari fungsi, tujuan, dan juga lokasi rencana pembangunan. Faktor-faktor tersebut nantinya akan menentukan struktur sea wall yang akan dibangun. Sebagai contoh, sea wall yang berfungsi sebagai antisipasi gelobang tsunami akan berbeda dengan sea wall untuk penanggulangan abrasi. Sea wall tsunami berfungsi menghadang gelombang tinggi dengan volume air yang besar sehingga dibutuhkan dimensi bangunan yang tinggi, impermeable (tidak menyusup melalui rongga), dan kuat untuk menahan tekanan akibat volume air yang besar (Padang Ekspress, 2011). Beberapa negara telah berhasil membangun sea wall dengan berbagai tujuan, salah satunya adalah negara tetangga, Singapura. Singapura merupakan salah satu contoh keberhasilan konstruksi sea wall untuk menampung air, mengingat negara ini merupakan negara kecil dan tidak memiliki sistem hulu sebagai sumber air. Namun kontras dengan tujuan pembangunannya, beberapa isu dan masalah lingkungan dapat muncul sehubungan dengan konstruksi sea wall, diantaranya adalah terganggunya  transport sedimen yang dapat menyebabkan pergeseran struktur dan juga terganggunya ekosistem lahan basah (wetland) dan wilayah intertidal.

Jakarta’s Giant Sea Wall

Melihat dari fakta-fakta kondisi fisik Jakarta yang semakin memprihatikan, rasanya pembangunan sea wall cukup masuk akal. Namun tentu, Pemerintah dan pihak terkait wajib untuk mempertimbangkan aspek lingkungan dan ekologi secara mendalam dari tahap pra-konstruksi, konstruksi, operasi, hingga pasca-operasi nantinya. Setidaknya ada beberapa aspek lingkungan yang perlu mendapat perhatian:

  1. Keberadaan ekosistem pantai; wilayah lahan basah dan intertidal, keberadaan dan interaksi biota laut.
  2. Proses aliran sedimen yang akan berpengaruh pada erosi dan struktur dari sea wall itu sendiri.
  3. Sistem buangan limbah; laut merupakan “tempat akhir” dari proses pembuangan limbah terutama limbah cair. Adanya sea wall yang “membendung” laut dikhawatirkan akan mempengaruhi aliran limbah dan dampak turunan yang dihasilkannya.

Dampak-dampak penting lain yang mungkin muncul harus dikaji lebih lanjut baik dalam bentuk studi kelayakan (Feasibility Study), Environmental Baseline, dan dokumen AMDAL nantinya. Melalui kajian itulah nantinya mitigasi dan rekomendasi dapat ditemukan sehingga diharapkan dapat mengurangi dampak negatif. Selain itu, pembangunan sea wall bukan merupakan jawaban akhir atas permasalahan banjir dan pasokan air bersih di Jakarta. Sangat disayangkan Jakarta yang mempunyai aliran air dari daerah hulu di Jawa Barat memiliki masalah dengan air bersih. Pembangunan sea wall digadang-gadang akan mampu memasok sekitar 80% air bersih. Hal ini sungguh ironis mengingat Jakarta masih memiliki sistem hulu yang bisa dipotimalkan. Seharusnya pembangunan ini bisa diselaraskan dengan perbaikan dan pengembangan sistem drainase dan juga sistem hulu sehingga dapat berintegrasi untuk mengatasi dan memenuhi kebutuhan warga Jakarta serta nantinya dana proyek yang ditargetkan akan dapat beroperasi pada tahun 2025 ini tidak sia-sia mengingat investasi dana yang sangat besar sekitar 150-200 triliun rupiah. Satu hal yang paling penting adalah jangan sampai pembangunan sea wall “memutus” hubungan Jakarta dengan alam.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s