Sirip Hiu Masih Mudah Didapatkan di Indonesia

CILACAP — Setelah 15 hari belayar, sekelompok nelayan asal Cilacap telah berhasil mengumpulkan puluhan sirip hiu. Umumnya, sebanyak satu ton sirip hiu dapat dikumpulkan dalam satu hari.

“Hiu sekarang sudah susah dicari, jarang yang bisa menangkapnya. Terutama hiu putih yang saat ini mulai langka.” ungkap Wasno ke Tempo pada hari Kamis (27/9) lalu. Wasno adalah salah seorang pemilik kapal di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap.

Wasno menjelaskan bahwa hiu bukan buruan utama. Akan tetapi, hiu sering ditemukan tersangkut pada jaring ikan yang ditebar. Lebih lagi, harga sirip hiu kini mencapai Rp 1,2 juta per kilogram. Karena itu sirip hiu sering dijadikan produk ekspor.

Shark finning merupakan praktek perburuan yang menyebabkan mutilasi hiu. – Animals Australia Unleashed

Cilacap bukan satu-satunya daerah di Indonesia yang terdapat praktek shark finning. Pada bulan Mei 2012, kasus serupa ditemukan di Kepulauan Raja Ampat. Sirip hiu bernilai sekitar Rp 1,5 miliar disita oleh pemerintah daerah.

Popularitas Shark Fin Soup

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa sirip hiu dieksploitasi untuk pembuatan shark fin soup atau sup sirip hiu. Makanan khas Cina ini dikenal di seluruh dunia dan telah menjadi menu standar pada restoran-restoran oriental di seluruh dunia.

Shark fin soupMother Nature Network

Untuk mencegah hal tersebut, telah dilakukan berbagai kampanye untuk menghentikan konsumsi sirip hiu. Salah satu kampanye dilakukan oleh lembaga Shark Savers yang mencanangkan slogan Say No To Shark Fin Soup. Beberapa kota besar dunia telah melakukan gerakan tersebut, seperti Singapura, Hong Kong, Taipei, dan sebagainya.

Sayangnya, gerakan tersebut terhambat oleh beberapa faktor, seperti faktor ekonomi dan ekonomi. Mary O’Malley dari BikyaMasr melaporkan bahwa konferensi CITES terkait isu ini baru saja gagal akibat kuatnya desakan kepentingan ekonomi. Selain itu, permintaan pasar masih terhitung tinggi sehingga aktivitas shark finning pun masih sulit dihentikan.

Shark Finning di Indonesia

Secara umum, perburuan hiu di Indonesia telah dipraktek sejak tahun 1970an. Pada tahun 1998-2002, Indonesia menjadi penyuplai 14% dari kebutuhan sirip hiu di dunia. Aktivitas perburuan hiu terus meningkat tiap tahunnya. Perburuan yang sebelumnya hanya berbuah 1.000 metrik ton di tahun 1950 melonjak jadi 117.600 metrik ton di tahun 2003 dengan nilai ekspor US$ 6,000 di tahun 1975. Di tahun 1991, angka tersebut membengkak menjadi US$ 10,000,000.

Praktek perburuan hiu umumnya hanya melibatkan pengambilan sirip. Setelah sirip dipotong, hiu dibuang kembali ke laut. Akibat praktek tersebut, sekitar 200.000 metrik ton bangkai hiu dibuang tiap tahunnya.

Secara hukum, praktek shark finning dilarang di berbagai negara. Akan tetapi, hal tersebut masih legal di Indonesia. Hal ini didukung dengan kondisi perekonomian nelayan Indonesia yang cenderung kurang sejahtera, sehingga membuat praktek shark finning lebih gencar dilakukan.

Akhirnya setelah menemui puncak ekspir sirip hiu di tahun 1990an, Indonesia mengalami penyusutan drastis akibat berkurangnya populasi hiu. Kini, praktek perburuan hiu bergeser ke arah timur, tepatnya pada wilayah Papua dan sekitarnya.

Bagaimana Cara Menekannya?

Saat ini, Kawasan Konservasi Hiu Raja Ampat telah mempraktekkan konsep ekowisata. Ekowisata ini bukan hanya meningkatan perekonomian lokal, namun juga sebagai wahana konservasi bagi hiu di wilayah tersebut.

Salah satu bentuk ekowisata yang diterapkan di sini adalah Misool Eco ResortMisool Eco Resort ini merupakan tujuan wisata yang digunakan untuk wilayah konservasi serta pemanfaatan kearifan warga lokal. Warga setempat diajarkan untuk meninggalkan kebiasaan buruk seperti pemboman ikan dan perburuan hiu dengan menyediakan mata pencaharian alternatif yang lebih sustainable.

Semoga ke depannya, praktek serupa dapat diperbanyak di seluruh Indonesia agar shark finning dapat ditekan.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s