“Have You Cottoned On Yet?” : Kampanye Kapas Organik

HONG KONG — Peter Melchett, direktur politik Soil Association mengajukan kampanye “Have You Cottoned On Yet?” pada pemimpin-pemimpin industri tekstil di Sustainable Textiles Conference, Hong Kong, Rabu lalu (3/9). Melchett mengajak perusahaan manufaktur dan retailer untuk mengurangi dampak ekonomi dan sosial dari perkebunan katun konvensional.

Have You Cottoned On Yet?” – Ecouterre

Menurut informasi dari komite “Have You Cottoned On Yet?”, permintaan pasar akan kapas meningkat setiap tahun. Akan tetapi, biaya produksinya yang meningkat tidak ditanggulangi oleh konsumer. Sebaliknya, biaya tersebut ditanggulangi oleh para petani kapas. Pertanian kapas konvensional umumnya diatur oleh perusahaan besar.

Ecouterre melaporkan bahwa 95% dari bibit katun yang tumbuh di India, produsen kapas terbesar kedua di dunia, diatur oleh satu perusahaan, yakni Monsanto.

Organic cotton is proven to deliver positive benefits for people and the environment.” ujar Melchett pada konferensi tersebut.

Kampanye “Have You Cottoned On Yet?” mengemukakan lima alasan utama untuk mendukung penggunaan kapas organik.

1. Mengembalikan kontrol pada petani, bukan perusahaan

Varietas tumbuhan kapas yang sering digunakan adalah Bt cotton yang dikeluarkan Monsanto. Tumbuhan ini merupakan Gossypium sp. yang telah dimodifikasi secara genetik dengan gen Bacillus thuringiensis sehingga tumbuhan dapat memproduksi insektisida alami.

Tumbuhan kapas Gossypium sp. – Mom It Forward

Namun penggunaan Bt cotton menuai kontroversi. “The benefits that were assured from Bt cotton cultivation are not coming,” kata Basudeb Acharia dari India’s Parliamentary Standing Community on Agriculture, “Farmers have to use more pesticides and chemical fertilisers, as a result of which there has been an increase in input costs and reduction in profit margins.

Bt cotton ditemukan banyak merugikan petani dari sisi ekonomi, sehingga menurunkan kesejahteraan petani. “Have You Cottoned On Yet?” menjelaskan bahwa praktek pertanian kapas seharusnya dikontrol oleh petani, bukan perusahaan besar.

2. Mengurangi dampak negatif dari pestisida

Institute of Agriculture and Trade Policy melaporkan bahwa pertanian kapas di negara-negara berkembang menggunakan pestisida sebanyak 50% dari penggunaan total.

Penggunaan pestisida berlebihan dapat berdampak negatif terhadap petani kapas. Menurut laporan dari Environmental Justice Foundation, setiap tahun ada sekitar 77 juta petani kapas yang menderita keracunan pestisida. Selain itu, pestisida juga memakan 60% dari seluruh biaya produksi kapas.

3. Meningkatkan kesejahteraan keluarga-keluarga petani kapas

Gossypium sp. umumnya dikultivasi secara monokultur, praktek pertanian yang menggunakan satu tumbuhan dalam satu lahan. Hal ini dinilai merugikan karena tidak ekonomis dan membutuhkan pestisida dalam jumlah besar.

Secara prinsipil, petani organik memanfaatkan praktek diversifikasi lahan untuk menjaga kesuburan tanah dan mengurangi hama. Karena itu, petani kapas organik dapat menumbuhkan tumbuhan-tumbuhan lain pada lahan kapas. Tumbuhan-tumbuhan ini bisa menjadi sumber makanan bagi keluarga petani. Surplus pada produk panen dapat dijual di pasar regional.

United Nations Conference of Trade and Development mengungkapkan, “Research shows that organic agriculture is a good option for food security…and is more sustainable in the long term.”

4. Menjaga sumber daya air

Pada tahun 2010, perairan di India mengalami kontaminasi besar akibat penggunaan pestisida dan pupuk kimia di lahan pertanian. Kultivasi Gossypium sp. diketahui membutuhkan sumber daya air yang sangat besar. Menurut sebuah artikel dari Institute for Water Education, dibutuhkan sekitar 11.000 liter air untuk satu kilogram kapas. Selain itu, penggunaan pestisida dan pupuk kimia yang banyak mengakibatkan air yang digunakan untuk lahan menjadi terkontaminasi.

Dengan tidak menggunakan zat kimia, produksi kapas organik dapat mempreservasi cadangan air tanah serta ekosistem di sekitarnya.

5. Menghambat perubahan iklim

Produksi kapas organik dapat mengurangi dampak perubahan iklim. Dengan meniadakan penggunaan pupuk kimia dan pestisida, gas rumah kaca yang dihasilkan menjadi sebanyak 94% lebih sedikit dari produksi kapas konvesional. Selain itu, tanah kultivasi Gossypium sp. menjadi lebih sehat dan mampu menyerap CO2 dari atmosfer.

Informasi lebih lengkap terkait kampanye “Have You Cottoned On Yet?” dapat dilihat di situs resminya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s