Penerapan Prinsip Agroekologi : Bertani Di Ekosistem Alami

Saat ini, pertanian industri atau industrial agriculture ditemukan banyak menghasilkan dampak negatif dibandingkan dampak positifnya. Di negara-negara barat, produksi berlebihan dari jagung berkontribusi dalam meningkatnya polusi tanah dan air serta kualitas makanan yang menurun. Selain itu, distribusi makanan terhadap penduduk dunia juga tidak merata.

The Christensen Fund menjelaskan di Nourishing Our Planet, blog milik Worldwatch Institute, bahwa penerapan prinsip agroekologi dapat mengurangi dampak negatif pertanian industri. Agroekologi juga dapat disebut ekologi pertanian.

It’s not a surprise that our current, universally acknowledged practice of industrial farming isn’t the best for our world. Currently, there are 1 billion people in the world today who are hungry, with another billion over eating unhealthy foods.”
– Christensen Fund

Dengan kondisi saat ini, pertanian industri ditemukan berkontribusi terhadap sepertiga dari seluruh emisi gas rumah kaca di dunia dan polusi pada sumber air.

Penerapan prinsip agroekologi bertujuan untuk mengurangi dampak negatif dari pertanian industri dengan melakukan praktek agrikultur dalam ekosistem alami. Dengan bertani pada ekosistem alami, beranekaragam tumbuhan dapat ditampung dalam satu lahan. Diversitas tumbuhan dapat memperkaya nutrisi tanah dan mencegah hama tanpa penggunaan zat kimiawi buatan. Selain itu, sumber makanan yang tumbuh pada lahan tani pun lebih sehat dan bergizi.

Soil to Sky: of Agroecology vs. Industrial Agriculture – Urban Times

Penggunaan ekosistem alami dalam pertanian juga dapat berfungsi sebagai upaya mitigasi perubahan iklim. Ekosistem alami terbukti berfungsi sebagai pencegah dampak perubahan iklim, seperti sebagai penyimpan stok karbon, pencegah erosi dan banjir serta menjaga keseimbangan biodiversitas.

Secara sosial, penerapan prinsip agroekologi juga dapat membawa kesejahteraan merata bagi penduduk dunia. Menurut The Christensen Fund, makanan yang dihasilkan pertanian industri terkonsentrasi di negara maju, sementara negara berkembang mengalami krisis pangan. Prinsip agroekologi, yang menggunakan konsep diversitas pada lahan, mengintegrasikan pertanian, peternakan hingga perikanan secara bersamaan. Dengan itu, meskipun tidak semua hasil pertanian dijual ke pasar, hasil lainnya dapat dikonsumsi oleh keluarga petani tersebut. Jumlah polutan yang sedikit juga dapat menghasilkan lingkungan yang sehat bagi para petani.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s