Menyelamatkan Gajah Sumatera Melalui Tes DNA

JAKARTA — Senin lalu (14/01), Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan World Wildlife Fund (WWF) Indonesia meresmikan persetujuan untuk melakukan proyek genetika molekuler yang bertujuan untuk konservasi satwa liar Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Kabupaten Palalawan, Propinsi Riau.

Gajah Sumatera ditemukan tewas di Riau. -WWF Indonesia

Gajah Sumatera ditemukan tewas di Riau. –WWF Indonesia

Pada tahun 2012, Gajah Sumatera tercatat sebagai satwa terancam oleh International Union for the Conservation of Nature (IUCN).

Pada proyek ini, feces Gajah Sumatera akan diberlakukan tes DNA yang dapat digunakan untuk mengestimasi jumlah populasi dan distribusi dari spesies tersebut.

“Dengan menggunakan teknik non invasif, kita dapat menentukan jumlah Gajah Sumatera dan memetakan pola distribusi spesies, klasifikasi keluarga mereka dan aspek ekologi mereka,” ungkap Efransjah, CEO WWF Indonesia.

Terdapat 350 dari 550 sampel fekal gajah yang telah dikumpulkan sejak Juli 2012. Sampel tersebut akan digunakan untuk mengembangkan marka genetik gajah.

“Kami menargetkan 18 marka genetik untuk mempelajari populasi gajah Sumatera,” jelas Deputi Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Herawati Sudoyo. Hingga saat ini, hasil analisis DNA sudah menemukan 14 marka genetik.

Setelah penandatanganan nota kesepahaman antara kedua belak pihak usai, Prof. Sangkot Marzuki mengatakan bahwa Lembaga Eijkman akan mengirimkan sekelompok ahli untuk melakukan pelatihan pengambilan sampel serta penggunaan alat dan bahan penelitian.

Menegakkan Undang-undang Dengan Tes DNA

Pada Undang-undang No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, tercantum bahwa perdagangan satwa liar dikenakan hukuman penjara maksimal lima tahun dan denda Rp 100 juta.

Sebelumnya, Lembaga Eijkman telah beberapa kali bekerjasama dengan Kementerian Kehutanan untuk melakukan identifikasi sampel dari satwa dagangan sitaan melalui uji DNA forensik. Satwa liar yang sering diuji adalah Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae).

Herawati Sudoyo menjelaskan bahwa konservasi satwa liar membutuhkan metode identifikasi yang menggunakan pendekatan genetika molekuler untuk memastikan asal spesies tersebut.

“Teknik biologi molekuler yang canggih benar-benar mengatasi kesulitan yang kami hadapi dalam memberikan bukti untuk penegakan hukum, jelas Herawati Sudoyo.

Populasi Gajah Sumatera Semakin Terancam

Sejak 25 tahun yang lalu, populasi Gajah Sumatera terus menurun. Menurut data WWF Indonesia dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau, populasi Gajah Sumatera telah menurun dari 1.300 menjadi 330.

Dilaporkan bahwa kegiatan konversi lahan dan pemburuan ilegal menjadi ancaman besar bagi seluruh Gajah Sumatera di Indonesia, terutama di TNTN. Pemburuan Gajah Sumatera menjadi semakin marak dengan meningkatnya deforestasi hutan untuk pengembangan kebun kelapa sawit.

Efransjah menjelaskan bahwa terjadi penyempitan habitat Gajah Sumatera sehingga kelangsungan hidup menjadi terancam.

“Gerak satwa menjadi sempit, sehingga mau tidak mau terjadi gesekan antara manusia dan satwa,” jelasnya.

One response to “Menyelamatkan Gajah Sumatera Melalui Tes DNA

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s