Hari Peduli Sampah Nasional: Stop Musibah Sampah ‘Longsor’

Hari Peduli Sampah Nasional 2013

Kondisi di TPA Putri Cempo, Mojosongo, Solo. –Solo Pos

Hari Peduli Sampah Nasional yang jatuh pada tanggal 21 Februari pastinya tidak ditentukan semata-mata tanpa alasan. Hari Peduli Sampah Nasional juga merupakan hari peringatan tragedi longsor sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah 8 tahun silam.

Musibah Sampah ‘Longsor’

Menurut laporan dari World Bank, setiap tahunnya kota-kota di dunia menghasilkan sampah sebanyak 1,3 miliar ton. Diperkirakan bahwa di tahun 2025, jumlah ini akan meningkat menjadi 2,2 miliar ton.

Hal tersebut dipicu oleh manajemen sampah yang buruk, terutama di negara-negara berkembang. Di Indonesia sendiri, angka pendaurulangan sampah tergolong rendah, yakni di bawah 50 persen.

Secara umum, manajemen sampah di Indonesia masih sangat kurang. Selain sampah seringkali tidak dibuang pada tempatnya, pengelolaan TPA pun masih buruk dan ‘asal-asalan’. Pengelolaan buruk ini pun akhirnya membuat nyawa melayang.

Pada 21 Februari 2005, terjadi peristiwa longsornya sampah di TPA Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat. Peristiwa ini merenggut nyawa dari 157 orang. Tepat pada pukul 02.00 dini hari, tumpukan sampah longsor bak gelombang tsunami dan menghantam Kampung Cilimus dan Kampung Pojok. Tumpukan sampah yang terdiri dari plastik, gabus, kayu serta sampah organik itu menghantam pemukiman meskipun berjarak lebih dari satu kilometer lebih dari puncak tumpukan sampah.

Terjadi juga peristiwa-peristiwa serupa di tahun-tahun berikutnya. Pada tahun 2006, 3 orang tewas tertimbun sampah di TPA Bantargebang, Bekasi. Di tahun 2010, 4 orang tewas di TPA Galuga, Bogor. Di tahun 2012, beberapa pemulung tertimbun sampah di TPA Sumur Batu, Bekasi, menewaskan satu orang. Bahkan di tahun 2013, 5 orang tertimbun tumpukan sampah pada kawasan tebing Babakan Cisarua, Bogor.

Peristiwa serupa yang terjadi berulang kali ini adalah cerminan bahwa manajemen sampah tanah air masih belum diperbaiki, lantaran nyawa telah berjatuhan.

Upaya Perbaikan Manajemen Sampah

Satu-satunya cara untuk mencegah musibah sampah ‘longsor’ yang terjadi belakangan ini adalah dengan memperbaiki manajemen sampah di Indonesia.

Telah dilakukan berbagai macam upaya untuk memperbaiki manajemen sampah, di antaranya adalah gerakan 3R (Reuse Reduce Recycle) dan Bank Sampah.

Gerakan 3R merupakan gerakan yang telah dicanangkan secara sporadis oleh beberapa perusahaan swasta, mahasiswa serta komunitas lokal. Akan tetapi, optimalisasi gerakan 3R baru dapat tercapai jika manajemen sampah pusat pun ikut mencanangkan gerakan 3R.

Sementara itu, Bank Sampah yang diinisiasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup ini telah dikembangkan di 41 kota pada tahun 2012. Menurut Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Malang yang diadakan November silam, jumlah unit Bank Sampah telah meningkat dari 471 menjadi 585 unit.

“Dengan adanya Bank Sampah itu, yang diutamakan, rakyat lebih peduli lingkungan, tidak lagi membuang sampah sembarangan dan bisa lebih sejahtera dari sampah,” jelas Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya pada Rakernas tersebut.

Tentu saja, kontribusi terbesar untuk perbaikan manajemen sampah terletak di diri kita. Apakah kita sudah membuang sampah pada tempatnya? Apakah kita sudah berusaha mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan setiap harinya?

Semoga di Hari Peduli Sampah Nasional ini, kita kembali diingatkan betapa pentingnya akan pengelolaan sampah. Tragedi Leuwigajah mungkin memang peringatan keras untuk kita.

 

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s